4 shared

Posts Tagged ‘Humor

Sembilan Dinar Saja


Suatu malam seorang ulama Sufi bermimpi bahwa ia sedang menjual seekor kambing yang gemuk.

“Berapa harga kambing ini ?” tanya seorang calon pembeli.

“Dua belas dinar.” kata sang sufi.

“Tujuh dinar.”

“Tidak boleh.”

“Delapan dinar.”

“Tidak boleh.”

Ketika tawaran mencapai sembilan dinar, sang sufi terbangun dari tidurnya.

Ia membuka kelopak matanya dan mengusapnya. Tak seekor kambingpun ia lihat.

Juga tak ada calon pembeli.

Cepat-cepat ia memejamkan matanya lagi sambil berkata.

“Kalau begitu, baiklah, sembilan dinar boleh kamu ambil.”


***

Iklan

I am Sorry…..



Untuk menunjukkan kekuatan dan kehebatan negara masing-masing, maka antara Orang Amerika, Inggris, dan Israel menguji kemampuan enggunakan panah. Dengan memanah buah apel yang ditaruh diatas kepala orang Arab.

Orang Amerika diberikan kesempatan pertama dan berhasil membelah buah apel menjadi dua, lalu berteriak: “I am RAMBOO!”

Selanjutnya, orang Inggrispun berhasil memanah buah apel hingga terbelah menjadi empat tanpa mengenai kepala Si Arab, dengan tak mau kalah iapun berteriak: “I am ROBINHOOD!”

Giliran terakhir, orang Yahudi dengan santai dilepas anak panahnya dan tepat mengenai “mata si Arab”, lalu dengan bersorak penuh kemenangan ia berteriak: “I am SORRY!”

(memang udah dari tadi dincernya mata si Arab itu!)


***

RONALD DIANTARA GAY



Seorang profesional muda sebut saja namanya Ronald, setelah setahun menabung, dia mengambil cuti dan berencana ikut salah satu paket tour. Dari iklan di koran, akhirnya dia menemukan paket tour yang sesuai dengan dana dan waktu yang tersedia, dari travel agent Singapore. Ternyata Ronald kurang teliti, paket yang dia ikuti ternyata paket untuk orang-orang gay alias homo.

Konon ceritanya, para gay atau homo kalau kentut tidak bunyi lagi, paling bunyinya “hhaahh” saja sebab anusnya sudah longgar.

Pada hari kedua di Paris, di dalam bis tour Ronald ingin buang angin alias kentut, dia coba tahan, lama-lama tidak tahan lagi, dia coba lepas pelan-pelan, apa mau dikata ternyata tetap berbunyi cukup keras “puuuuutttt”. Ronald jadi was-was takut kena maki.

Tetapi apa yang terjadi, peserta tour lain serempak menyeletuk seperti orang koor, “Mmhhhhhhh …… still virgin ……!”


***

GUYONAN IRIAN


[Maaf … nama dan lokasi kejadian hanyalah rekaan belaka sehingga bila terdapat kesamaan itu berarti hanya kebetulan semata…]

MUNTAH


Hiduplah seorang kakek dan nenek di sebuah pulau kecil di pesisir pantai Irian. Keduanya kebetulan tidak dikaruniai keturunan sehingga segala keperluannya dikerjakan oleh mereka berdua tanpa syarat.

Suatu hari si kakek hendak mencoba perahu barunya …( … transportasi di pesisir pantai Irian rata-rata menggunakan perahu, baik dengan menggunakan dayung maupun motor tempel). Karena suasana laut saat itu kurang menguntungkan akibat gelombang yang agak besar, maka si kakek mengatakan sama si nenek agar nggak usah ikut aja, soalnya si kakek kuatir banget jangan-jangan si nenek mual alias mabuk laut sehingga perahu barunya ini akan dijadikan sasaran muntah si nenek. Namun si nenek bersikeras agar diizinkan ikut, maklumlah … pasangan sejati sich. Segala bujuk rayu sudah diupayakan oleh si kakek agar si nenek berdiam aja di rumah namun tak berhasil. Akhirnya dengan satu syarat, bahwa si nenek nggak boleh mabuk laut maka ikutlah si nenek bersama do’inya ini mengujicobakan perahu baru mereka di seputar pulau tersebut.

Saat itu kondisi laut sekitar pulau tersebut tidak mau diajak kompromi dengan program layak dayung yang dikomandoi oleh sang kakek ini. Akibatnya fatal, bahwa si nenek walaupun dari sononyo sudah imun dengan problematika kelautan (iklim, cuaca, gelombang, dll) ternyata saat itu daya tahan tubuhnya menurun drastis, sempoyongan di atas perahu, lemas tak berdaya dipermainkan gelombang, sehingga tanpa disangka-sangka muntahlah si nenek … namun muntahnya di dalam perahu barunya si kakek. So pasti … tanpa basa-basi, tanpa aba-aba meluncurlah umpatan, caci maki yang keluar dari mulut si kakek akibat perahu barunya dimuntahin sama si nenek. Saat si kakek “melagukan tembang-tembang minor” tersebut si nenek hanya diam dan hanya mendengarkan dengan pasrah “lagu” si kakek tersebut. Setelah si kakek puas “bernyanyi” maka tiba-tiba menyelalah si nenek, katanya : ” masa sich kamu bisa marahin saya seenak perutmu aja gara-gara saya hanya sekali muntah di perahumu, lupa ya …. kalau kamu setiap malam selalu muntah di perahuku … saya sekalipun nggak pernah marahin kamu”………:)

***

GUYONAN MADURA

Ada anekdot bahwa orang Madura banyak yang takut pada Tentara.

Suatu saat, di sebuah bis kota yang penumpangnya berjubel seseorang bertanya kepada salah satu penumpang yang badannya kekar dan berambut pendek :

“Maaf pak, apakah sampiyan Polisi ? ” (logat Madura)

“Bukan !”

“Apakah sampiyan Angkatan Darat ?”

“Bukan !”

“Angkatan Laut atau Angkatan Udara ya ??”

“Bukaaan…!”

“Kalau begitu jancuk sampiyan !”

“Lho kenapa ?”

“Ini sampiyan nginjak kaki saya “.

***

Cium dulu pantat gue ……

Seekor macan tutul bersedih. Ia kehilangan warna kulitnya yang indah itu.

Padahal bintang film Holywood pun suka dia punya motif. Apa boleh buat, aku harus cari seluruh pelosok di hutan ini, siapa yang curi warna kulitku.

“He gajah, siapa yang curi warna kulitku?” tanyanya ke gajah.”Kuberitahu kau siapa, tapi, cium dulu pantatku” jawab gajah. Sang macan yang biasanya jadi raja hutan, terpaksa cium pantat gajah hanya untuk informasi yang sangat ia perlukan ini.

“Tul, yang tahu siapa pencuri warna kau itu adalah si musang! Tanya aja dia” kata gajah. Si macan pun terpaksa cari musang. Waktu ketemu, ditanyanya si musang :”He musang, siapa yang curi warnaku?”. “Kuberi tahu kau siapa, tapi, cium dulu pantatku” jawab musang. Terpaksa sekali lagi, sang macan cium pantat musang, demi informasi yang amat penting ini.

“Tul, yang tahu siapa pencuri warna kau itu adalah si kancil! Tanya aja dia” ujar musang kemudian. Terpaksa lagi si macan tutul mencari kancil. Demi informasi yang amat penting ini. Tapi, lagi-lagi untuk mendapat informasi yang berantai ini ia harus cium pantat si pemberi informasi. Setelah kancil, berturut-turut monyet, lantas landak, rusa, anoa, tapir, sapi, kambing, ayam, bebek, sampai akhirnya sampailah ia ke bongkibong.

Pengen tahu binatang apa bongkibong itu?

Cium dulu pantatku…..

Hahahah….Giilaa beneeerrr…

***

KB cap JEMPOL

Perusahaan tempat Soni bekerja sebelumnya pada awal tahun 70-an sedang giat-giatnya mengkampanyekan program KB. Klinik perusahaan juga demikian.

Poster-poster KB ditempelkan di tempat-tempat yang strategis agar mudah dibaca oleh khalayak ramai. Klinik sibuk, berhubung banyak karyawan yang mau ikutan KB. Karyawan umumnya rakyat setempat yang berasal dari kampung-kampung di sekitar lokasi perusahaan. Karyawan yang berasal dari daerah lain juga banyak; diantaranya dari Tapanuli, Minang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Ambon, danlain sebagainya.

Salah seorang karyawan yang berasal dari Jawa Tengah mengeluh karena anaknya sudah sembilan orang. Punya anak lagi, kasian isteri; disamping usia pasangan ini sudah mendekati angka 50-an. Soal KB masih awam, nggak ngerti…

Terjadi dialog antara si pegawai dengan dokter klinik :

Pegawai : “Pak dokter, saya mau ikut KB saja…” (dengan logat jawa tengahnya yang kental). Anak saya sudah sembilan, kasian isteri…pak !”

Dokter : “Oh… begitu toh pak….Jadi sampeyan nggak pengen punya anak lagi toh…”

Pegawai : “Njee… pak, tulung yo….”

Dokter : “Baik… Ini ada beberapa cara. Yang ini (sambil memperlihatkan kemasan pil KB), Ibu ne.. tinggal minum”. Kalau yang ini, bapak yang pake (sambil memperlihatkan bungkus plastik kecil). “Bapak pilih yang mana…?

Pegawai: “Biar yang itu saja pak dokter… biar saya yang pake….Kasian isteri kalau harus minum pil…”

Dokter : “Baik… Ini plastiknya bapak buka dan dipakenya begini.. (sambil menyarungkan karet KB kejempol kirinya memberi contoh). Kalo di pake ‘e begini, bapak ibu aman… Ibunya nggak bakalan hamil lagi…Ngerti toh… pak..”

Pegawai : “Njeee… pak dokter..”

Selang beberapa bulan, si pegawai kembali ke klinik dengan muka kesal karena ternyata isterinya hamil lagi.

Pegawai : “Pak dokter piye toh pak..isteri saya kok hamil lagi..? Katanya nggak bakal hamil..”! (bicara dengan dokter dgn nada kesal).

Dokter : “Hamil lagi?… nggak mungkin…”

Pegawai : “Bener lho pak… ini bapak liat sendiri.. (sambil menunjuk pada isterinya yang berdiri disamping).

Dokter : “Lha… bapak makek ‘e gimana…?” (bertanya heran..)

Pegawai : “Iyo.. sesuai petunjuk bapak!..Ini saya sarungkan ke jempol kiri saya, ya sudah…!”

Dokter : “Pak ‘e, nyarungnya jangan ke jari lho pak..! “Walah.. walah….”

***


Iklan

Kategori