4 shared

Posts Tagged ‘Artikel

 

 

Siapa yg Ngejorogin Gua ?

 

 

Suatu waktu, sebelum kapal Tampomas tenggelam, dalam pelayaran Jakarta – Medan, di tengah perjalanan, waktu itu sore hari seorang anak kecil jatuh ke laut. Semua orang hanya bisa menonton si anak kecil berjuang sendirian melawan ombak, crew kapal pun tidak ada yang berani menolong. Kapten kapal lewat microphone menghimbau supaya ada yang mau menolong anak kecil tersebut sebelum meninggal di telan ombak, tetapi tidak ada yang berani, semua hanya bisa menonton, orang tua si anak hanya bisa menangis tersedu-sedu.

 

Namun, di tengah kehiruk-pikukan suasana, seorang anak muda melompat ke laut dan menolong si anak kecil, crew kapal segera melontarkan tali ke bawah dan akhirnya si anak muda berhasil menolong anak kecil tersebut dan mereka berdua berhasil di angkat ke atas kapal.

 

Begitu sampai di atas kapal, Kapten kapal mendatangi si pemuda berani memberikan pujian dan ucapan terima kasih, “Anda berani sekali, orang seperti andalah yang dibutuhkan oleh negara ini, dan terima kasih atas keberanian Anda, Anda telah menyelamatkan reputasi saya juga, kita akan mengadakan pesta sukuran malam ini, oh … ya, nama Anda siapa? Si anak muda menjawab dengan muka ketus dan cemberut, “Amir”.

 

Ibu si anak kecil datang dan memeluk Amir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan juga pujian-pujian serta janji-janji untuk menyenangkan hati si Amir yang tetap kelihatan tidak senang dan cemberut.

 

Orang-orang juga bingung melihat sikap Amir yang demikian, tetapi setiap orang memberikan selamat kepadanya dengan hati bertanya-tanya.

 

Malamnya pada saat pesta yang disiapkan meriah, dimulai dengan sambutan-sambutan. Pertama-tama sambutan dari Kapten kapal yang memuji-muji keberanian Amir, selanjutnya sambutan dari orangtua si anak kecil. Pembawa acara pun tampil, “Para hadirin yang saya muliakan, tibalah saatnya kita mendengar sambutan dari pahlawan kita hari ini, seorang pemuda Indonesia yang berani, kepada Saudara Amir saya persilakan maju ke depan.

 

Amir pun maju ke depan, tetap dengan wajah yang semakin cemberut, di depan microphone dia diam dan memandang berkeliling ke semua hadirin dan memulai sambutannya, masih tetap cemberut dan menunjukan ketidakpuasan, “Saudara-saudara, saya tidak akan berpanjang-panjang, saya cuma mau tanya …. tadi sore siapa yang ngejorokin(mendorong) saya dari kapal ini ……?!

 

 

***

Iklan

Yang Jarang Diketahui Orang Lain


1) Nomor Darurat Nomor darurat untuk telepon genggam adalah 112.

Jika anda sedang di daerah yang tidak menerima sinyal HP dan perlu
memanggil pertolongan, silahkan tekan 112, dan HP akan mencari network
yang ada untuk menyambungkan nomor darurat bagi anda, dan yang
menarik,nomor 112 dapat ditekan biarpun keypad dilock. Cobalah…

2) Kunci mobil ada ketinggalan di dalam mobil?

Anda memakai kunci remote?Kalau kunci anda ketinggalan dalam mobil dan
remote cadangannya di rumah, tinggal telpon orang rumah dengan HP,
lalu dekatkan HP andakurang lebih 30cmdari mobil, dan minta orang
rumah untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada
dirumah (waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang rumah
mendekatkan remotenya ke telepon yang dipakainya).

3) Baterai cadangan tersembunyi.

Kalau baterai anda hampir habis, padahal anda sedang menunggu telpon
penting, dan telpon anda dibuat oleh NOKIA, silahkan tekan *3370#,
maka telpon anda otomatis restart dan baterai akan bertambah 50%.
Baterai cadangan ini akan terisi waktu anda mencharge HP anda.

4) Tips untuk men-cek keabsahan mobil/motor anda ( Jakarta area only).

Ketik :contoh metro B86301O (no polisi anda) Kirim ke 1717, nanti akan
ada balasan dari kepolisian mengenai data2 kendaraan anda, tips ini
juga berguna untuk mengetahui data2 mobil bekas yang hendak anda
beli/incar.

5)Jika anda sedang terancam jiwanya karena dirampok/ditodong seseorang

untuk mengeluarkan uang dari atm,maka anda bisa minta pertolongan
diam2 dengan memberikan nomor pin secara terbalik,misal no asli pin
anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan mengeluarkan uang anda
juga tanda bahaya ke kantor polisi tanpa diketahui pencuri tsb.
Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya sedikit orang yang tahu.


***

 

 

Cara Mempelajari Kesalahan 3

 

Di zaman mudanya, konon Ronggowarsito yang punya nama asli Bagus Burham itu dikenal seorang anak muda dari kelas sosial atas yang nakalnya minta ampun. Karena nakal itulah sang ayah mengirim Ronggo didampingi seorang emban Ki Tanujoyo ke seorang tokoh masyarakat berpengaruh pada zaman itu, yaitu Kyai Imam Besari, di daerah Tegalsari Ponorogo Jawa Timur untuk berguru. Setelah beberapa bulan di situ, ternyata Ronggowarsito tidak banyak berubah bahkan uang 500 real untuk modal belajar dan dua kudanya dijual untuk judi.

 

Ki Tanujoyo dinilai terlalu lemah oleh Kyai Imam Besari yang selalu meng-iya-kan keinginan Ronggowarsito. Akhirnya mereka secara diam-diam meninggalkan Tegalsari menuju tempat yang jauh. Mendengar berita ini ayah Ronggowarsito memohon agar Kyai Imam Besari ikut membantu mencari dimana Ronggowarsito berada. Sampai akhirnya ditemukan dan dibawa lagi ke Tegalsari, saat itulah Kyai Imam Besari konon marah besar kepada Ronggo yang punya tabiat tidak baik di samping prestasi akademiknya jatuh.

 

Setelah dimarahi langsung oleh Sang Kyai, Ronggowarsito mulai berubah bahkan konon sampai membuat banyak orang kagum atas sedemikian dahsyat perkembangan intelektual / prestasi akademik yang dicapai. Itulah bagian awal perjalanan Ronggowarsito menjadi seorang pujangga, pejabat keraton, intelektual, dan bahkan dalam sejarahnya banyak murid-murid Ronggowarsito yang datang dari luar negeri yang bisa disebut nama-namanya antara lain: C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing atau Jansen dan lain-lain.

 

Ada kemungkinan besar sekali bahwa dalam praktek hidup, proses yang terjadi tidaklah se-otomatik seperti yang tertulis di dalam naskah di mana ada orang yang langsung berubah setelah dimarahi atau ditegur orang lain. Dalam kenyataan, proses belajar dan berubah ini ibaratnya proses tarik-ulur tambang kesadaran yang berkali-kali. Sudah pasti tidak semua orang punya cita-cita atau perjalanan hidup seperti Ronggowarsito atau Soekarno yang berguru pada Cokroaminoto atau tokoh-tokoh sekarang yang dulunya adalah murid khusus M. Natsir, namun kalau tradisi ini malah bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan diri kita, mengapa tidak dilakukan saja? Apakah kebutuhan untuk berguru terhadap pembimbing pribadi ini tidak bisa dipenuhi dari pendidikan formal yang sudah ada? Pada bagian tertentu jelas sudah bisa dipenuhi tetapi hal mendasar yang mesti kita sadari tentang pendidikan formal / non-formal adalah sistemnya yang sudah sejak awal dirancang untuk kebutuhan orang banyak (generic) dan sudah dipatok harus memenuhi kebenaran-metodelogis tertentu yang sudah dilegalkan. Di sisi lain meskipun kita sebagai manusia memiliki kesamaan tetapi secara pribadi kita memiliki keunikan tersendiri yang membutuhkan model sentuhan yang berbeda.

Manfaat belajar dari pembimbing pribadi.

 

Mengapa kita membutuhkan pembimbing pribadi ? Ada beberapa alasan yang dapat kita lihat bersama:

 

1.Belajar dari kesalahan masa lalu.

 

Satu dari sekian alasan mengapa kita butuh pembimbing pribadi adalah bahwa pengalaman dan wawasan mereka, merupakan pelajaran amat bernilai, dalam mengantisipasi terulangnya kesalahan yang mungkin akan kita lakukan, jika kita tidak belajar dari kesalahan atau kegagalan mereka. Namun dalam praktek hidup sehari-hari menunjukkan sebuah kebiasaan bahwa amat jarang orang mau membagikan sesuatu yang berharga bagi dirinya, apalagi jika hanya sekedar “kenal” dan “tahu sama tahu”walaupun orang itu secara struktural menjadi atasan kita dan setiap hari bertemu.

 

Dalam pekerjaan (di kantor) sehari-hari, ada fakta umum yang mudah kita temukan bahwa sebanyak apapun pengetahuan kita tentang pekerjaan tertentu, namun ketika sampai pada pelaksanaannya, tetap saja ada hal-hal tertentu yang belum kita ketahui. Sebaliknya, sesederhana apapun pekerjaan yang kita lakukan, tetapi jika dikerjakan dengan sepenuh hati dan dengan segenap kreativitas demi mencapai hasil yang terbaik, maka kita seringkali menemukan pengetahuan dan pemahaman baru (insight and understanding, knowledge and awareness).

 

Kenyataan demikian mengkonfirmasi pernyataan Bruce Lee bahwa hidup ini adalah sebuah sekolah. Kita perlu selalu berada dalam keadaan belajar, karena sekolah kehidupan terlebih dahulu memberikan ujian-ujian, baru kemudian materi pelajarannya. Oleh karena itu, “sharing knowledge”, saling berbagi pengalaman satu orang dengan yang lain, akan memperkaya diri kita dengan berbagai materi dan pengalaman hidup orang lain sehingga kita bisa belajar mengantisipasi kesalahan dan kegagalan yang mungkin bisa terjadi dalam proses belajar menunju kemajuan.

2.Merobohkan tembok mental dan persepsi diri yang keliru.

 

Setiap orang cenderung pernah memiliki mispersepsi terhadap diri sendiri (misperception about self). Perasaan tidak mampu, tidak sanggup atau tidak bisa, belum tentu benar-benar disebabkan tiadanya kemampuan actual / kemampuan riil. Persepsi negative yang membuat kita ragu pada diri sendiri, tanpa disadari menjadi sebuah tembok, yang membatasi kemampuan, kesempatan dan kemajuan kita sendiri. Mahatma Gandhi mengatakan, orang tidak akan bisa mengalahkan tantangan di luar dirinya, sebelum mengalahkan tantangan (merobohkan tembok mental) di dalam dirinya.

 

Dalam seni kehidupan, faktor mental, fisik dan ketrampilan (skill) – ketiganya memiliki pengaruh yang signifikan, karena kalau yang satu terganggu maka yang lain biasanya ikut terganggu. Pernyataan Henry Ford yang terkenal “Baik anda berpikir bisa dan tidak bisa, keduanya benar.” Berpikir tidak bisa akan membuat kita benar-benar tidak bisa (tidak mampu) meskipun pada hakekatnya kita punya kemampuan untuk bisa. Pengalaman Greg Phillips yang menggeluti bidang SDM juga berkesimpulan senada bahwa awal kemampuan seseorang meraih prestasi itu adalah kekuatan mental yang positif di mana seseorang meyakini kemampuannya lebih besar dibanding tantangan hidup yang dihadapi. Persepsi keliru terhadap diri sendiri, yang menghalangi pertumbuhan dan keberhasilan diri, membuat peran guru pembimbing menjadi amat berarti bagi kita.

 

Jim Rohn dari pengalamannya menggeluti bidang SDM menyimpulkan bahwa “man not lack of capacity but lack of teaching.” Banyak hal yang semula kita simpulkan tidak bisa tetapi karena kita diajari oleh orang lain yang lebih dahulu menguasai dan menggeluti masalah itu, akhirnya kita mampu menjalaninya dengan baik. Kita sudah melihat kendala yang dialami pembimbing dan belajar dari kesalahan dan kebangkitan mereka – hingga dalam diri kita bisa tumbuh keyakinan, bahwa kita sendiri sesungguhnya mampu. Dan keyakinan ini lah yang akhirnya membuat kita benar-benar mencapai keberhasilan.

 

3.Meneguhkan keyakinan diri.

 

Dalam praktek hidup banyak sekali yang membuktikan bahwa semua yang diciptakan Tuhan di dalam diri kita tidak main-main, alias sebuah materi yang kalau disentuh dengan pemberdayaan akan berguna bagi kita, termasuk misalnya saja rasa malu atau rasa takut. Padahal, keduanya kalau dibiarkan jelas bisa menghambat keinginan kita untuk maju. Tetapi kalau diberdayakan (baca: diolah menjadi energi positif), rasa malu bisa menjadi semacam pil penguat stamina mempertahankan komitmen pada usaha meraih keinginan.

 

Kebutuhan kita terhadap guru pembimbing diperlukan untuk membuat kita memahami diri sendiri (emosi dan persepsi) dan mengendalikan diri – atas dasar pemahaman yang lebih dalam terhadap diri sendiri. Sebab, kita seringkali masih perlu diingatkan bahwa emosi dan persepsi yang tidak tepat, dapat membuat kita bereaksi secara tidak tepat dan akhirnya menghambat kita melakukan tindakan yang positif, tepat dan sehat. Kita sering ragu dan takut melakukan sesuatu, hanya karena dikuasai ketakutan dan keraguan. Sebaliknya, ada pula yang tidak berpikir dalam dan panjang – tanpa pertimbangan dan emosional sehingga dapat melakukan tindakan nekat atau berbahaya. Untuk itu, keberadaan guru pembimbing menjadi sangat penting. Pepatah mengatakan: manusia sebenarnya tidak membutuhkan pengetahuan sebanyak kebutuhannya terhadap terhadap bimbingan dan peringatan / arahan.

 

Bagaimana proses belajar yang efektif?

 

Siapa saja yang bisa kita jadikan guru pembimbing ? Sesungguhnya, semua orang yang menurut kita memiliki nilai diri yang berkualitas dan pengalaman yang kompleks (baik pengalaman sukses maupun gagal), atau mereka yang terlebih dahulu berprestasi, dapat menjadi pembimbing kita. Sayangnya, keberadaan mereka di sekeliling kita pun tidak menjamin keberhasilan kita bertumbuh dan berkembang. Hal ini bukan disebabkan ketidakmauan sang pembimbing, namun bisa disebabkan ketidaktahuan diri sendiri akan apa yang benar-benar kita perlu pelajari dalam hidup ini. Untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan belajar kita, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

 

1.Mempelajari nilai dan prinsip utama yang dituntut oleh profesi dan pekerjaan.

 

Kita harus memahami nilai dan prinsip kerja yang diperuntukkan bagi kita, sesuai bidang kerja dan jabatan yang kita emban saat ini. Meminjam istilah Gardon Dryden & Dr. Jeannette Vos (Learning Revolution: 1999) isu besar itu dapat pula kita artikan dengan “prinsip utama” yang mengatur suatu pekerjaan. Prinsip dan nilai tersebut akan berbeda antara satu pekerjaan / peran dengan yang lainnya, dan berbeda industri – akan berbeda pula nilai serta prinsipnya. Oleh sebab itu, belajarlah dari pembimbing yang dapat membuat kita bercermin dan menemukan, apa yang masih harus kita lengkapi dan kembangkan, atau bahkan diubah – sesuai dengan tuntutan situasi kondisi kerja saat itu. Dari pembimbing, kita pun belajar bagaimana menghadapi masalah-masalah yang secara spesifik cenderung muncul dalam proses kerja sehari-hari. Kita harus mempelajari, prinsip dan nilai apakah yang perlu dipertahankan dan diperjuangkan, sehingga kita bisa survive dan sukses dalam bekerja.

 

2.Menetapkan batasan (setting boundaries and priorities)

Menentukan batasan-batasan yang harus kita ketahui dan pelajari, baik secara konseptual maupun praktek, agar kita dapat tahu apa yang diperlukan untuk mampu beradaptasi terhadap tuntutan pekerjaan (memfokuskan diri pada prioritas utama di dalam ruang lingkup pekerjaan, sehingga apa yang kita pelajari dan lakukan, lebih pasti, jelas dan relevan – bermanfaat bagi prestasi dan karir)

 

3.Menentukan siapa pembimbing yang tepat.

 

Menentukan orang-orang tertentu yang menurut kita bisa memberikan informasi akurat berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya (pembimbing pribadi). Ibarat dalam perang, mendapatkan informasi dari sumber terpercaya diakui oleh Sun Tzu sebagai aset yang menentukan keberhasilan. Setelah itu, berusahalah menemukan dan menggunakan cara belajar yang paling sesuai dengan karakteristik sang guru pembimbing. Merujuk cara Einstein atau Dale Carnegie, bahwa sebagian dari prinsip utama berguru itu sesungguhnya dilakukan dengan memunculkan sebanyak mungkin tanda tanya di dalam diri murid – untuk kemudian sang murid lah yang harus mencari jawabannya sendiri. Atau, mengajukan pertanyaan dengan cara yang dikehendaki oleh guru dan lebih banyak menggunakan telinga untuk mendengarkan, karena mendengarkan adalah cara yang paling efektif untuk menarik perhatian sang guru.

 

4.Belajar sendiri – Learning by doing.

 

Mengolah dan menjalankan sendiri – bukan menjiplak atau mengikuti secara mentah-mentah. Mengolah dan menjalankan sendiri setiap prosesnya, adalah dua faktor yang menurut pendapat Gib Atkin, membedakan knower dengan learner. Knower berarti, hanya sebatas tahu saja dan pengetahuan itu pun dipamahami sebagai sebuah konsep. Namun, learner adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan dan penggerak untuk menciptakan definisi diri serta berbagai penemuan yang baru (new person, new experiences, new discoveries).

Kalau kita sampai hari ini belum menemukan guru manusia yang sesuai, maka guru yang terdekat dan paling mudah ditemui adalah dengan membaca buku dan mempraktekkannya, baik di lingkungan kerja maupun di dimensi lain dalam kehidupan. Dengan demikian, kita selalu memperbaharui dan mengembangkan self-knowledge, atau pemahaman diri, sehingga akhirnya, setiap hari kita menjadi orang baru. Semoga bermanfaat…..

 

 

***

 

 

10 Cara Aman Memilih Taxi di Jakarta

 

 

 

1. Sebelum naik kedalam taxi lihatlah apakah rodanya komplit ada 4, kalau cuma 3 mungkin anda salah nyetop (Bajaj).

 

2. Carilah taxi yang sopirnya Adalah Rano Karno (ingat film layar lebar “Supir Taxi” beberapa tahun lalu).

 

3. Kalau anda pergi sendiri, duduklah didepan di samping pak supir tawarkanlah rokok atau makanan ringan padanya, dan berdialoglah dengan pak supir, contoh dialog : ” Si Udin (nama karangan) masih narik nggak Pak ? “, niscaya sopir akan merasa anda adalah teman salah satu supir di perusahaannya (walau itu entah siapa), kemungkinan anda akan dapat perlakuan istimewa / discount dan selama perjalan bersikaplah sebagai navigator. Atau kalau memang memungkinkan, peluklah sopir erat-erat agar tidak melarikan diri, sehingga jika

terjadi hal-hal yang tidak di-inginkan, anda bisa meminta pertanggung jawabannya.

 

4. Bila anda naik Taxi dengan si dia pilihlah taxi dengan kaca film min 80 %.

 

5. Selama perjalanan perhatikan perbandingan besar argo, speedometer didepan dan bandingkan dengan jam tangan anda apakah sesuai dengan pergerakan tarifnya (jangan sering-sering melihat kesamping), siapa tahu sopir mengakali argo ketika anda lengah.Usahakan agar perhatian anda terpusat / terkonsentrasi pada angka yang tercantum diargo !!!!.

 

6. Segeralah minta turun (walau dijalan tol) kalau besar argo sudah lebih besar dari uang di dompet anda.

 

7. Perhatikan lampu bahaya diatas apakah menyala selama anda naik, perlu membawa cermin kecil sebagai pemantul untuk melihatnya, bila anda diikuti kendaraan polisi di belakang pasti lampu bahaya sedang menyala.

 

8. Mintalah AC dimatikan (agar lebih irit), bukalah jendela agak lebar agar terlihat oleh penumpang bis kota bahwa anda sedang naik taxi.

 

9. Ketika turun hitunglah jam berapa anda berangkat dan jam berapa anda sampai lalu hitunglah seperti poin 5 sehingga perhitungan argo tidak meleset. Mintalah tanda terima pembayaran dan tawarlah tarif dibulatkan kebawah.

 

10. Pada saat akan turun dari taxi, usahakan agar kaki turun / keluar satu persatu (jangan kaki keluar/turun pada saat yang bersamaan).

 

Selamat naik Taxi !

 

***

 

 

Cara Mempelajari Kesalahan 2

 

 

Yang Lalu Biar Berlalu, seolah-olah kita tidak boleh melihat masa lalu, tidak boleh melihat sejarah apa yang terjadi di masa yang lalu, Janganlah melihat masa lalu jika hal itu membuat kita sedih, tapi ingatlah masa lalu jika itu merupakan pelajaran berharga dan bisa membangkitkan semangat kerja kita. Tidak sedikit orang-orang yang sukses hanya karena mempelajari kesalahan-kesalahan masa lalu dan kemudian memperbaikinya. Bagaimanapun masa lalu tetaplah masa lalu yang tidak mungkin kembali lagi, dan begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegagalan masa lalu untuk diperbaiki di saat sekarang.

 

Hari Ini Milik Anda, bagus kalau kita menganggap hari ini milik kita karena akan menimbulkan semangat dan melupakan kesalahan/kesedihan kita. Tapi jika kita terpaku pada hari ini saja, maka kita pun tidak punya harapan untuk hari esok, jika hari ini telah selesai maka habislah hari kita. Hari ini milik Anda begitu juga hari esok adalah semboyan yang cukup bagus, kita lalui hari ini sambil mempersiapkan hari esok. Memang umur dan ajal tidak seorangpun yang tahu maka berusahalah sebaik mungkin pada hari ini seolah-olah kita akan dihormati esok hari.

 

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri, memang tidak ada yang salah dari kalimat ini, tapi seolah-olah kita tidak boleh mempunyai cita-cita, tidak boleh memiliki impian dan harapan. Jika demikian mengapa harus menyibukkan diri dengan hari esok ?

Kita sah-sah saja mempunyai cita-cita, harapan, impian dan rencana untuk masa depan, tapi jangan sekedar angan-angan saja. Jadikan cita-cita, harapan dan impian kita menjadi nyata dengan bekerja keras dan selanjutnya akan menimbulkan semangat untuk menjalani hari-hari kita. Jikapun nantinya usaha untuk menggapai hari esok kita kandas, maka janganlah bersedih. Yang terpenting kita telah berusaha keras untuk mewujudkannya.

 

 

Jadi Kesimpulannya :

 

Pertama, Jangan pernah terpaku pada masa lalu yang membuat kita bersedih

Kedua, Jadikan hari ini milik kita untuk berbuat dan bekerja lebih baik

Ketiga, Jangan terpaku pada masa depan berupa angan-angan, buktikan bahwa kita mampu menggapainya.

Keempat, Jadikan kegagalan hari kemarin pelajaran yang berharga, impian, cita-cita dan harapan kita menjadi pemacu semangat untuk bekerja dan berbuat lebih baik pada hari ini.

 

***

Cara Mempelajari Kesalahan 1


Ketakutan untuk berbicara di depan umum sebetulnya tidak berdasar, karena berbicara di depan umum tidak mengancam nyawa dan tubuh kita. Namun banyak orang yang merasa ngeri berbicara di depan orang banyak dan akan melakukan apa saja untuk menghindarinya.

Untuk itu, Judith E. Pearson, Ph.D., DTM, memberikan penjelasan tentang rasa takut berbicara di depan umum berdasarkan 20 tahun pengalamannya sebagai seorang Life Coach terapis berbasis Neuro-Linguistic Programming dan hipnoterapi di Springfield, Virginia. Beliau juga adalah anggota dari Galloping Governors Toastmasters Club.

Judith menyimpulkan tiga bentuk utama rasa takut berbicara di depan umum:

1. “It’s all about me”;

2. Kegagalan parah di masa lalu; dan

3. Selalu berpikir akan melakukan kesalahan di muka umum.

Langkah pertama yang diambil Judith sebagai terapis adalah membantu merubah cara pikir client-nya. Proses ini biasa disebut reframing. Menurutnya, bila sudah dapat membuat seseorang memandang ketakutan berbicara di depan umum dengan cara yang berbeda, maka akan mudah untuk merubah perilaku dan emosinya.

1.”It’s All about Me”

Banyak orang beranggapan bahwa ketika banyak mata mengarah padanya, mereka seperti sedang dihakimi. Mereka biasanya berkata, “saya menjadi begitu gugup sehingga saya tidak bisa berhenti berpikir betapa gugupnya saya, dan betapa setiap orang sedang menatap saya, dan betapa bodohnya saya di mata mereka.”

Judith selalu membenarkan adanya rasa takut itu kepada kliennya. Lalu beliau akan berkata:

Bila anda berpikir bahwa semua ini adalah mengenai anda, maka anda memiliki pendekatan tentang berbicara di depan umum yang keliru. Semua ini bukan mengenai anda. Namun mengenai audiens dan pesan yang anda ingin sampaikan kepada mereka. Mereka di sana bukan untuk menghakimi anda. Mereka di sana ingin mendapatkan pesan yang akan disampaikan, dan mereka sebetulnya tidak perduli dengan orang yang menyampaikan pesan tersebut. Mereka hadir dengan tujuan mendapatkan informasi, pelajaran, inspirasi, dan hiburan. Berhenti berpikir tentang diri anda saja dan mulai berpikir tentang mereka. Berhentilah beranggapan seolah anda adalah terpidana mati di depan regu tembak, dan mulailah berpikir sebagai seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga untuk disampaikan kepada mereka yang ingin mendengarkan. Ketika anda mulai fokus pada kebutuhan audiens, dan melepaskan pikiran dari diri anda sendiri, rasa gugup anda nantinya pasti akan hilang.”

2.Kegagalan Parah di Masa Lalu.

Banyak juga orang yang percaya bahwa mereka ditakutkan oleh pengalaman masa lalu yang memalukan – peristiwa yang telah terjadi di depan orang banyak – terkadang terjadi di masa kecil mereka. Bagi mereka, peristiwa tersebut menciptakan rasa takut berlebihan terhadap pemikiran menjadi pusat perhatian.

Akui bahwa setiap hal yang memalukan adalah siksaan yang amat buruk. Kemudian, katakan pada mereka:

Pertama, tidak seorang pun berencana untuk gagal, dan anda tidak selalu dapat mengendalikan setiap situasi. Kedua, anda telah melewati peristiwa itu sehingga anda memiliki kesempatan lain untuk menerima tantangan baru. Ketiga, peristiwa tersebut adalah di masa lalu dan memang sudah berlalu, sehingga tidak mungkin akan terjadi peristiwa yang persis sama. Maka selanjutnya adalah terserah anda. Bila anda tetap fokus pada peristiwa mengerikan di masa lalu, maka kesempatan untuk berhasil akan hilang. Ambillah pelajaran dari peristiwa itu dan gunakan untuk melakukan dengan lebih baik di masa datang. Kegagalan bukan menjadi alasan untuk berhenti. Setiap kegagalan yang kita jumpai memberikan informasi berharga untuk perbaikan di masa depan. Anda akan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan hanya bila anda focus pada kelebihan dan keberhasilan-keberhasilan anda.”

3.Selalu Berpikir akan Melakukan Kesalahan di Muka Umum.

Judith selalu mengatakan kepada kliennya bahwa rasa takut membuat kesalahan adalah seperti satu sisi dari uang logam. Sisi lainnya adalah rasa hasrat yang besar untuk berhasil dan memberikan kesan yang baik. Kemudian beliau menambahkan bahwa rasa gugup dan takut tidak akan memberikan kesan yang baik. Beliau melanjutkan:

Kunci utama untuk berbicara di muka umum adalah dengan berlatih. Berlatih akan memperkecil kesalahan. Kunci lainnya adalah mendapatkan umpan balik dari orang lain. Forum-forum semacam Toastmasters adalah tempat yang sangat tepat untuk berlatih karena evaluator anda akan selalu dapat menunjukan hal-hal yang dapat anda tingkatkan.

Agar bisa berdamai dengan rasa takut melakukan kesalahan, paling baik adalah dengan cara mengakui kenyataan bahwa kesalahan bisa saja terjadi, bahkan kepada pembicara yang paling terampil. Dan yang penting adalah apa yang anda lakukan terhadap kesalan tersebut. Semakin anda menunjukan ketidaknyamanan terhadap kesalahan yang terjadi, semakin besar pula kemungkinan audiens anda mengetahuinya.

Cara untuk memperbaiki kesalahan adalah dengan mempelajari kesalahan anda tenang-tenang, ambil tindakan perbaikan yang diperlukan, kembali tenang, fokus pada apa yang akan anda ingin ucapkan selanjutnya, dan seterusnya. Lupakan kesalahan yang terjadi, dan lanjutkan dengan materi presentasi anda. Audiens akan melupakannya. Banyak pendengar akan mengagumi cara anda melanjutkan presentasi dengan tenang, dan mungkin mereka akan merasa lega mengetahui bahwa anda ternyata juga manusia yang dapat membuat kesalahan. Rahasia menjadi pembicara hebat adalah mampu memberi ruang terhadap kesalahan dan juga mampu memperbaikinya, secepatnya.”

Setiap kali Judith melakuka reframing di atas terhadap kliennya, mereka menjadi takjub dan berkata, “wah, saya gak pernah sampai berpikir seperti itu!”.

Apabila kita dihadapi oleh tuntutan untuk berbicara di depan umum dan muncul rasa takut dan khawatir, coba dengan melakukan reframing seperti contoh-contoh di atas. Anda bisa saja melakukan modifikasi sehingga menemukan kalimat reframing yang paling dapat merubah cara pandang anda mengenai berbicara di muka umum.

***

PAY IT FORWARD

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan

sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi

kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang

memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada

orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor

yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya,

lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu

dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia

yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang

saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan

eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang

pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman

sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.

Percobaanpun dimulai :

Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk

berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha

menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol

minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya

mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor. Sang mama yang melihat

perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama

mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD,

MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk

meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi kerumah ibunya

(nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan

mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf

dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu,

saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT

FORWARD,MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima

dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda

yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di

mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan

terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan

kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada

seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan,

ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda

berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong

meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang

wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu

acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan: “PAY IT

FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad

untuk mencari tahu dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut,

jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari

informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah

sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang

mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar

Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa

yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di

Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara

tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN

KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia

yang penuh kasih.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman

sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan

Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak

henti-hentinya datang dan berkumpul dihalaman rumahnya sambil meletakkan

bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor.

Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang

diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih

kepada orang lain.

Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan didalam

hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk

mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana

ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain

yang ada disekitarmu)”

***


Iklan

  • Tidak ada

Kategori