4 shared

Archive for the ‘Renungan’ Category

 

 

Siapa yg Ngejorogin Gua ?

 

 

Suatu waktu, sebelum kapal Tampomas tenggelam, dalam pelayaran Jakarta – Medan, di tengah perjalanan, waktu itu sore hari seorang anak kecil jatuh ke laut. Semua orang hanya bisa menonton si anak kecil berjuang sendirian melawan ombak, crew kapal pun tidak ada yang berani menolong. Kapten kapal lewat microphone menghimbau supaya ada yang mau menolong anak kecil tersebut sebelum meninggal di telan ombak, tetapi tidak ada yang berani, semua hanya bisa menonton, orang tua si anak hanya bisa menangis tersedu-sedu.

 

Namun, di tengah kehiruk-pikukan suasana, seorang anak muda melompat ke laut dan menolong si anak kecil, crew kapal segera melontarkan tali ke bawah dan akhirnya si anak muda berhasil menolong anak kecil tersebut dan mereka berdua berhasil di angkat ke atas kapal.

 

Begitu sampai di atas kapal, Kapten kapal mendatangi si pemuda berani memberikan pujian dan ucapan terima kasih, “Anda berani sekali, orang seperti andalah yang dibutuhkan oleh negara ini, dan terima kasih atas keberanian Anda, Anda telah menyelamatkan reputasi saya juga, kita akan mengadakan pesta sukuran malam ini, oh … ya, nama Anda siapa? Si anak muda menjawab dengan muka ketus dan cemberut, “Amir”.

 

Ibu si anak kecil datang dan memeluk Amir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan juga pujian-pujian serta janji-janji untuk menyenangkan hati si Amir yang tetap kelihatan tidak senang dan cemberut.

 

Orang-orang juga bingung melihat sikap Amir yang demikian, tetapi setiap orang memberikan selamat kepadanya dengan hati bertanya-tanya.

 

Malamnya pada saat pesta yang disiapkan meriah, dimulai dengan sambutan-sambutan. Pertama-tama sambutan dari Kapten kapal yang memuji-muji keberanian Amir, selanjutnya sambutan dari orangtua si anak kecil. Pembawa acara pun tampil, “Para hadirin yang saya muliakan, tibalah saatnya kita mendengar sambutan dari pahlawan kita hari ini, seorang pemuda Indonesia yang berani, kepada Saudara Amir saya persilakan maju ke depan.

 

Amir pun maju ke depan, tetap dengan wajah yang semakin cemberut, di depan microphone dia diam dan memandang berkeliling ke semua hadirin dan memulai sambutannya, masih tetap cemberut dan menunjukan ketidakpuasan, “Saudara-saudara, saya tidak akan berpanjang-panjang, saya cuma mau tanya …. tadi sore siapa yang ngejorokin(mendorong) saya dari kapal ini ……?!

 

 

***

Iklan

PAY IT FORWARD

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan

sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi

kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang

memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada

orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor

yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya,

lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu

dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia

yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang

saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan

eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang

pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman

sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.

Percobaanpun dimulai :

Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk

berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha

menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol

minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya

mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor. Sang mama yang melihat

perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama

mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD,

MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk

meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi kerumah ibunya

(nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan

mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf

dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu,

saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT

FORWARD,MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima

dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda

yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di

mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan

terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan

kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada

seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan,

ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda

berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong

meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang

wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu

acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan: “PAY IT

FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad

untuk mencari tahu dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut,

jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari

informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah

sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang

mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar

Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa

yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di

Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara

tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN

KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia

yang penuh kasih.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman

sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan

Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak

henti-hentinya datang dan berkumpul dihalaman rumahnya sambil meletakkan

bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor.

Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang

diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih

kepada orang lain.

Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan didalam

hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk

mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana

ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain

yang ada disekitarmu)”

***

BELI WAKTUNYA AYAH

Seperti biasa, Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Eko, anak pertamanya yang baru duduk di kelas 3 SD, yang membukakan pintu. Tampaknya Eko sudah menunggu cukup lama.

“Kok belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Eko memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat kerja pagi hari. Sambil mengikuti ayahnya ke ruang keluarga Eko menjawab,

“Eko nunggu Ayah pulang. Eko mau nanya, berapa sih gaji ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya-nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi, ya?!”

“Ah, engga, Cuma pengen tahu aja.”

“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000. Setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Eko berlari mengambil kertas dan pensilnya sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan TV. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti baju, Eko berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp40.000 dong,” katanya.

“Wah, pinter banget kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, trus bobok,” perintah Rudi. Tetapi Eko tak beranjak. Sambil memandang ayahnya berganti pakaian, Eko kembali bertanya,

“Ayah, boleh ngga Eko pinjam uang Rp 5.000?”

“Sudah, ngga usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah kan capek. Ayah mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, ayah….”

“Ayah bilang: Tidur!” hardiknya mengejutkan Eko.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi menengok anaknya di kamar. Anak kesayangannya itu belum tidur. Ia sedang terisak-isak pelan sambil memegang sejumlah uang, Rp15.000. Rudi nampak menyesali hardikannya tadi, lalu ia mendekati anaknya.

“Maafkan ayah ya Nak. Ayah sayang sama Eko,” katanya sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu. ”Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000, lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, Eko ngga minta uang. Eko cuma mau pinjam. Nanti Eko kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Eko nunggu ayah dari jam 8. Eko mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Ibu sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, Eko mau beli waktu ayah.”

“Lalu, lalu?” tanya Rudi penuh perhatian.

Tadi Eko buka tabungan, ada Rp 15.000. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp 40.000, maka setengah jam berarti Rp20.000. Uang Eko kurang Rp 5.000. Makanya Eko mau pinjam dari ayah…,” kata Eko polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat…

***

AYAM ATAU BEBEK …???

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah

hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka

sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara

di kejauhan : “Kuek! Kuek!”

“Dengar,” kata si istri, “Itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu

bebek, Sayang,” kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.

“Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tandas si istri, sembari

menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?” si suami

berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam,” masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue… bek, kamu… kamu….”

Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu

yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam….”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan

akhirnya ia ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan

mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan

bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah : siapa sih yang

peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka,

yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.

Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?

Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika Kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi

prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang

benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita

merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan

ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang

direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

***

KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI

Di sebuah universitas kelas malam,dimana mahasiswa/siswinya adalah pekerja semua.

Di saat menuju jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/siswinya :

“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.

DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan
tulis.
Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh siswi tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.

DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda
paling tidak penting!

Siswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Kemudian Siswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Siswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.
Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu
nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.

Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua mahasiswa/siswi tertuju memandang ke arah dosen, dalam pikiran mereka (para siswa/i) mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh siswi itu.

Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata, “Silahkan coret
satu lagi!”

Dengan pelahan-lahan siswi itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat
sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Hatinya menjadi bingung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu,terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.

Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya “Orang terkasihmu bukannya
Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah
anda yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa
anda berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk
dipisahkan?”

Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.
Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata “Sesuai waktu
yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak
jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, Yang
benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya”.

SEBENARNYA, KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI, JIKA DIKUPAS SESIUNG DEMI
SESIUNG, ADA KALANYA KITA DAPAT DIBUAT MENANGIS….”

***

TIDAK BANYAK ORANG YANG BISA

MELAKUKANNYA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua
yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil
segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba,
minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Asin. Sampai jadi pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah
kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya
ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat
tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya
sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga
itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan
tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari
telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua
berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air
itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan
memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah
yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat
kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.
Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada
satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung
segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah
laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya
menjadi kesegaran dan kebahagiaan. ”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan
Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk
anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.


***

Do Your Best !!!

Hari ini marilah kita merenung sejenak tentang kehidupan kita masing-masing…

Tentang segala hal yang terjadi dalam hidup kita, tentang apa saja yang telah dan belum kita lakukan sejak kita sadar bahwa kita hidup…

Sudahkah kita melakukan apa-apa yang seharusnya kita lakukan sehingga kita mendapatkan apa yang seharusnya dan layak kita dapatkan…

Sudahkah kita membuat diri kita dan orang-orang yang kita cintai BAHAGIA???

Apapun jawaban yang akan kita sampaikan….mari kita coba tanyakan kembali kepada diri kita sendiri….

APAKAH KITA TELAH MELAKUKAN YANG TERBAIK DALAM HIDUP KITA?

Siklus perjalanan hidup manusia dari sejak lahir (bayi) sampai tua (lanjut usia) kemudian meninggal dunia…

Ya…benar itulah gambaran perjalanan hidup manusia secara utuh, tetapi seperti yang kita ketahui bersama bahwa siklus hidup manusia tidak selalu berawal dari bayi kemudian hidup sampai tua dan meninggal dunia.

Kita semua berharap memiliki panjang umur supaya bisa menikmati segala bentuk keindahan dan kenikmatan dalam hidup.

Tetapi jodoh, rejeki dan kematian adanya di tangan Tuhan.

Ada bayi yang baru lahir langsung meninggal dunia, ada anak balita habis bermain kemudian badannya panas dan meninggal dunia, ada anak ABG sedang menyeberang jalan sepulang sekolah tertabrak mobil dan meninggal dunia, ada seorang remaja sepulang dari dugem mengalami kecelakaan di tol dan meninggal dunia dan ada juga seorang mantan presiden yang umurnya mendekati satu abad tapi belum meninggal juga.

Karena itu kita tidak perlu menanyakan atau selalu berusaha untuk mencari tahu (ada lho yang percaya dengan mbah dukun, miss fortune teller, cenayang, paranormal dan sejenisnya) kapan giliran kita dijemput oleh sang Malaikat.

Sudah pasti jawabannya bahwa kita tidak akan pernah tahu,titik.

Sekarang yang terpenting dan yang seharusnya kita lakukan adalah APA YANG BISA SAYA LAKUKAN YANG TERBAIK DALAM HIDUP SAYA SEKARANG!!!

Ya…yang terbaik SEKARANG bukan NANTI bukan BESOK bukan LUSA bukan MINGGU DEPAN bukan BULAN DEPAN bukan TAHUN DEPAN tetapi SEKARANG….SEKARANG…..SEKARANG!!!

SEKARANG…..coba Anda BAYANGKAN…..Anda lihat orang-orang yang anda cintai… orang tua Anda….Suami atau istri Anda….Anak-anak Anda….bayangkan bahwa ini adalah hari terakhir dalam hidup Anda dan Anda memeluk mereka untuk yang terakhir kalinya……

Kemudian Anda melihat mereka semua melambaikan tangan kepada Anda dan mengucapkan SELAMAT TINGGAL…..

Tanyakan sekali lagi….SUDAHKAN SAYA MELAKUKAN YANG TERBAIK DALAM HIDUP SAYA, BUAT SAYA SENDIRI DAN ORANG-ORANG YANG SAYA CINTAI?

Kawan, kita memang tidak pernah tahu apakah hari ini adalah HARI TERAKHIR dalam HIDUP kita, tetapi kita BISA menjadikan HARI INI MENJADI HARI YANG TERBAIK DAN TERINDAH dalam hidup kita dengan BERBUAT YANG TERBAIK SEKARANG….

“DO YOUR BEST ….and THE UNIVERSE will GIVE YOU THE BEST !”


Iklan

  • Tidak ada

Kategori