4 shared

“Fifty-fifty”

Posted on: November 6, 2009


“Fifty-fifty”


“Saya dan seorang pakar ekonomi dari World Bank yang berasal dari Toronto, Canada sedang melakukan studi mengenai fenomena banyaknya ayam broiler (pedaging) yang diternakkan di daerah Ciamis – Jawa Barat.

Setelah berputar-putar melihat kandang-kandang ayam, sang konsultan dan saya mulai merasa lapar. Kami mulai berputar-putar mencari restoran yang ada di Ciamis. Tapi tampaknya tidak banyak pilihan. Sedangkan “stomach can not wait”. Jadi, ya sudah. Saya ajak saja untuk makan direstoran terbesar yang ada di kota ini. Ternyata restoran ini hanya menjual sop, saja. Tak ada pilihan lain. Ya, sudah. Kami pesan sop untuk kami berdua.

Diluar dugaan saya, dan terutama sang konsultan, sop yang disajikan enak sekali. Sampai sang konsultan nambah berkali-kali.

“Saya pikir, sop terenak itu hanya ada di Toronto, tetapi rupanya sop Ciamis ini benar-benar luar biasa”.

Begitu penasarannya, sampai sang pelayan pun dipanggil sambil bisik-bisik,

β€œIni sop kok enak sekali. Apa resepnya?”

Sang pelayan menggelengkan kepalanya. Enggan untuk menjawab. Sang konsultan – mulai faham. Mungkin diperlukan gambar Sudirman untuk membuka mulut yang terkunci. Selembar dua-puluh ribuan segera berpindah tangan.

“Apa resepnya?” “Anu-anu ……” sang pelayan tetap ragu-ragu, walaupun uang dua puluh ribuan sudah masuk kantong.

Sang Konsultan mulai jengkel. Ahirnya dua lembar 50 ribuan segera diselipkan.

“Ini sop biasa pak”

“Sop apa?”

“Anu… pak. Sop ayam!”

“Ah… tak mungkin. Saya ini ahli ayam yang sudah keliling dunia! Pasti ada sesuatu yang dirahasiakan!”

“Benar pak. Ini daging ayam spesial. Pak”

“Apanya yang spesial?”sang konsultan mulai tidak sabar. “Nganu …. pak. Ini rahasia keluarga yang turun temurun. Saya tak boleh menceritakannya.”

Sang Konsultan semakin paham. Itu artinya, perlu tambahan pelicin. Dan angka seratus dengan gambar George Washington pun apa boleh buat– berpindah tangan juga.

“Tapi Bapak jangan bilang sama siapapun. Sop ayam tadi ….” si pelayan sedikit ragu-ragu, menengok kiri kanan, kemudian berbisik ” …. dicampur sedikit daging kuda”.

“Sedikit? Berapa banyak? Kok bisa enak sekali sopnya?”

“Nganu…pak. Fifty-fifty!” dengan rasa bersalah si pelayan mengaku juga.

“Fifty-fifty? Maksudnya sekilo daging ayam dicampur dengan sekilo daging kuda?”

“Bukan, pak. Satu ekor ayam dan satu ekor kuda!”


***

2 Tanggapan to "“Fifty-fifty”"

nice joke… lumayan nih cerita lucu nya..πŸ˜€

thanks ya dah coment diwebku…
met berkarya dah dengan webnya…
sukses selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: