4 shared

Father & Son

Posted on: November 4, 2009


 

 

Father & Son

 

 

Ini bukan judul lagunya BoyZone, tapi sebuah cerita tentang seorang anak dan ayahnya, yang bertengkar dan hampir-hampir baku tikam gara-gara masalah ‘sepele’ yang menyangkut ‘balas budi’.

 

Cerita ini hanya rekaan belaka, jadi jika ada pribadi yang namanya sama atau mengalami hal yang sama, itu semua semata-mata hanya kebetulan saja, tak ada maksud penulis untuk melecehkannya.

 

Syahdan beginilah ceritanya :

 

Alkisah di Desa Sipirok di Tapanuli tinggallah seorang pemuda tanggung yang akrab dipanggil dengan sebutan si Ucok. Ia tinggal bersama-sama dengan orang tua dan adik-adiknya di rumah sederhana di perbatasan desa.

 

Seperti halnya dengan kebanyakan pemuda-pemuda desa yang lain, pantang bagi Ucok untuk hidup miskin, apalagi menganggur, di kampung sendiri. Dengan berbekal ijazah SMA serta sebuah surat dan alamat seorang sanak semarga, berangkatlah ia ke Ibukota, Jakarta. Sesampai di Jakarta ia mencari alamat sanak semarganya, dan beruntunglah ia karena sanaknya bermurah hati untuk memberikan tumpangan selama ia mencari kerja di Jakarta.

 

Tidak seperti kebanyakan pemuda perantau yang harus melewati kerja keras dan kasar sebelum berhasil memeperoleh nafkah yang cukup, Ucok termasuk sedikit diantara mereka yang beruntung mengadu nasib di Ibukota.

 

Tak sampai sebulan Ucok di Jakarta, ia berhasil memperoleh kerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan elektronik. Berkat keuletan, kecerdasan, kerja keras serta kejujurannya, Ucok dipercaya oleh atasannya dan disukai oleh kawan-kawannya di kantor sehingga karirnya terus meningkat sampai ia berhasil menjadi seorang manager.

 

Lima tahun setelah Ucok berangkat ke Jakarta, saat ia masih sebagai seorang supervisor, ia mempersunting rekan sekerjanya, Sulastri, yang berasal dari Jawa Tengah. Karena keterbatasan dana maka Ucok hanya bisa memberi kabar kepada orang tuanya di Sipirok bahwa ia telah menikah dengan seorang gadis asal Solo, Sulastri.

 

Sulastri gadis yang cantik dan berbudi pekerti baik, ia sangat sayang suaminya dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.

 

Akhirnya pada saat Ucok telah membaik keadaan ekonominya, dan harga tiket pesawat terbang telah tejangkau, maka keinginan pertamanya adalah cuti dan berkunjung ke kampung halamannya untuk menghormati ayah bundanya. Apalagi kini Lastri telah punya momongan Ucok Junior yang baru setahun, ia ingin sekali segera memamerkan anaknya kepada kedua orang tuanya.

 

Akhirnya pada akhir tahun Ucok sekeluarga bertiga (dengan anaknya yg baru setahun), cuti dan berkunjung ke kampung halamannya untuk menengok orang tua dan adik-adiknya.

 

Sampai disana, mereka tinggal dirumah orang tua Ucok. Orang tua dan adik-adik Ucok sangat bersuka hati ketemu lagi dengan anak/abang tertua mereka. Mereka juga bangga punya anak mantu dan kakak ipar yang cantik seperti Lastri. Kecantikan Lastri dengan cepat menyebar keseantero desa, dan menjadi buah bibir. Beruntunglah si Ucok jelek yang berhasil mempersunting si putri SOLO. Mereka terlebih senang lagi karena tahu Ucok bawa oleh-2 serta uang cukup banyak untuk dibagikan kepada mereka.

 

Hari kedua adik-adik Ucok merengek-rengek minta diajak jalan-jalan ke super market. Akhirnya mereka setuju untuk pergi rame-rame. Tapi ayah Ucok bilang nggak bisa ikut : ‘Kalian pergi sajalah…. biar aku dirumah, aku sedang tak enak badan..”, kata ayah si Ucok.

 

Karena Ucok Junior juga lagi nangis, maka Ucok minta Lastri buat tinggal di rumah aja, sekalian nemenin Bapaknya. ‘Dik Lastri…, mendingan kamu tinggal di rumah saja, keliatannya anak kita sedang nggak enak badan, sekalian kau jaga ayahku, Beliau juga lagi sakit.” Ucok lalu menambahkan “Aku harap kau bisa rawat ayahku baik-baik, tunjukkanlah bahwa kau memang seorang menantu yang baik, kerjakanlah apa yang ia minta, supaya senang hatinya”, demikian pesan Ucok kepada Lastri istrinya.

 

Kemudian Ucok beserta Ibu dan adik-adiknya pergi ke Super Market Matahari untuk berbelanja. Sedangkan Lastri dan anaknya serta ayah mertuanya tinggal di rumah.

 

Selama mereka pergi, ayah mertua Lastri minta dibuatkan teh hangat serta minta dibelikan rokok di warung tetangga.

 

Tak lama kemudian anaknya menangis, yang kali ini berarti tiba waktu untuk menyusui si kecil. Maka Lastri membawa anaknya masuk ke kamar untuk disusui. Secara tak sengaja, ayah mertuanya melihat pada saat ia sedang buka baju dan menyusui anaknya.

 

Melihat menantunya dalam keadaan baju terbuka serta terlihat BD-nya, timbul nafsu kelaki-lakiannya, apalagi Lastri boleh dibilang wanita tercantik yang pernah dilihatnya.

 

Tanpa malu-malu ia lalu menerobos masuk ke dalam kamar dan memelototkan matanya ke arah Lastri yang dalam keadaan dada terbuka serta sedang diam tak berkutik karena terkejut dan shock akan kejadian yang datang tiba-tiba ini.

 

Belum lagi Lastri sadar dari shocknya, ayah mertuanya tiba-tiba menerkam ke arahnya sehingga ia terjatuh ke tempat tidur. Lastri berusaha berontak, dan kali ini ia berhasil. Mukanya pucat pasi, dan ia segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

 

Namun tanpa malu-malu ayah mertuanya bilang ia juga pingin seperti cucunya, ‘menete’ (menyusu) ke mantunya…. Kontan Lastri marah-marah dan bilang ‘Ayah tak tahu diri, kenapa tega melakukan hal ini kepada anak menantu sendiri ?’. Namun ayah mertua Lastri berkeras dan memaksa-maksa dengan ancaman akan menyuruh Ucok menceraikannya jika ia tak mau memenuhi keingingannya.

 

Akhirnya Lastri ingat pesan Ucok agar baik-baik merawat ayah mertuanya. Maka dengan berat hati dan terpaksa akhirnya ia menuruti keinginan ayah mertuanya, namun dengan syarat ayah mertuanya tidak boleh menggunakan tangannya atau pegang apa-apa dan hanya dikasih waktu sepuluh detik saja.

 

Ayah mertuanya minta waktu sepuluh menit. Akhirnya setelah melalui tawar menawar yang alot, disetujui bersama waktu yang ditetapkan hanya satu menit saja. Yakh…. terjadilah kejadian yang tak patut untuk diceritakan itu.

 

Saat Ucok kembali dari Super market…. dengan berlinang air mata Lastri menceritakan apa yang telah terjadi kepada suaminya. Kontan deh dengan geram dan muka garang Ucok mendatangi ayahnya untuk melabrak serta minta penjelasan serta pertanggung jawaban ayahnya atas tindakan tak senonoh yang telah dilakukannya kepada menantunya.

 

‘Ayah…. saya tak pernah menyangka, kenapa ayah setega itu melakukan hal yang tak senonoh kepada istriku, anak menantu ayah sendiri ?”

 

Namun diluar dugaan, ayah Ucok bukannya menyesal, malah dengan tak kalah garang ia menghardik anak dan menantunya :

 

‘Ah…. kau Ucok…. dasar Kau ini anak tak tahu membalas budi orang tuamu. Masih ingatkah dulu sewaktu kau masih kecil ? Kau ‘menetek’ pada istriku hampir selama lima tahun. Pernahkah aku marah padamu ? Tak pernah bukan ? Sekarang aku cuma minta ‘menetek’ kepada istrimu satu menit saja, kau sudah marah-marah bak harimau tertembak kakinya…., anak macam apa kau ini ?” “dasar tak tahu membalas budi orang tua…” kata ayah si Ucok.

 

Ucok dan Lastri teridam tak tahu harus bicara apa lagi.

 

 

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: