4 shared

BELI WAKTUNYA AYAH

Posted on: September 24, 2009


BELI WAKTUNYA AYAH

Seperti biasa, Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Eko, anak pertamanya yang baru duduk di kelas 3 SD, yang membukakan pintu. Tampaknya Eko sudah menunggu cukup lama.

“Kok belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Eko memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat kerja pagi hari. Sambil mengikuti ayahnya ke ruang keluarga Eko menjawab,

“Eko nunggu Ayah pulang. Eko mau nanya, berapa sih gaji ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya-nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi, ya?!”

“Ah, engga, Cuma pengen tahu aja.”

“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000. Setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Eko berlari mengambil kertas dan pensilnya sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan TV. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti baju, Eko berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp40.000 dong,” katanya.

“Wah, pinter banget kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, trus bobok,” perintah Rudi. Tetapi Eko tak beranjak. Sambil memandang ayahnya berganti pakaian, Eko kembali bertanya,

“Ayah, boleh ngga Eko pinjam uang Rp 5.000?”

“Sudah, ngga usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah kan capek. Ayah mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, ayah….”

“Ayah bilang: Tidur!” hardiknya mengejutkan Eko.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi menengok anaknya di kamar. Anak kesayangannya itu belum tidur. Ia sedang terisak-isak pelan sambil memegang sejumlah uang, Rp15.000. Rudi nampak menyesali hardikannya tadi, lalu ia mendekati anaknya.

“Maafkan ayah ya Nak. Ayah sayang sama Eko,” katanya sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu. ”Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000, lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, Eko ngga minta uang. Eko cuma mau pinjam. Nanti Eko kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Eko nunggu ayah dari jam 8. Eko mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Ibu sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, Eko mau beli waktu ayah.”

“Lalu, lalu?” tanya Rudi penuh perhatian.

Tadi Eko buka tabungan, ada Rp 15.000. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp 40.000, maka setengah jam berarti Rp20.000. Uang Eko kurang Rp 5.000. Makanya Eko mau pinjam dari ayah…,” kata Eko polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat…

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: