4 shared

5 Pintu Menuju Keindahan dan Kebahagiaan

Posted on: September 24, 2009


5 Pintu Menuju Keindahan dan Kebahagiaan

Gede Prama memulai talkshow dengan bercerita tentang tokoh asal Timur

Tengah, Nasruddin. Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman

rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum.

Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum

tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari, jarum itu tak ketemu juga.

Tetangganya bertanya, “Jarumnya jatuh dimana?”

“Jarumnya jatuh di dalam,” jawab Nasruddin.

“Kalau jarum jatuh di dalam, kenapa mencarinya di luar?” tanya

tetangganya. Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, “Karena di

dalam gelap, di luar terang.”

Begitulah, cerita Gede Prama, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan

keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat

apa-apa. Sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan

keindahan, sebenarnya adalah daerah-daerah di dalam diri. Justru letak

‘sumur’ kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak perlu

juga mencarinya jauh-jauh, karena ‘sumur’ itu berada di dalam semua orang.

Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya,

banyak orang mencari sumur itu di luar. Ada orang yang mencari bentuk

kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus

atau rumah indah. Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di luar

tersebut akan berujung pada bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak akan

berlangsung lama. Kulit, misalnya, akan keriput karena termakan usia,

mobil mewah akan berganti dengan model terbaru, jabatan juga akan hilang

karena pensiun.

“Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan

selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap

kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat

dari mencarinya di luar,” tegas Gede Prama. Untuk mencapai tingkatan

kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus melalui

5(lima) buah ‘pintu’ yang menuju ke tempat tersebut.

Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing.

“Stop membandingkan dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar

untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap

pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar,”

ujar Gede Prama.

Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, menurut

Gede Prama, dimulai dari membandingkan. Gede Prama mencontohkan orang

kaya berkulit hitam yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa dia

berkulit hitam. Orang itu sering kali membandingkan dirinya dengan orang

kulit putih.

“Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik.

Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan lain,

maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang orang kaya itu. Leads you

nowhere,” kata Gede Prama dengan logatnya yang khas.

Karena itu, Gede Prama mengajak peserta ke sebuah titik, mengalir

(flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu menjadi

diri sendiri. Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja.

Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai

belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.

Kepercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita

bangun dari dalam. “Tidak ada kehidupan yang paling indah selain dengan

menjadi diri sendiri.Itulah keindahan yang sebenar-benarnya!” kata Gede Prama.

Pintu kedua adalah memberi.

Sebab utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah untuk memberi.

“Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi

lebih banyak,” ujar Gede Prama.

“Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan; I intend good, I do good and

I am good. Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik, kemudian

saya menjadi orang baik. Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita

konsentrasi pada hal memberi,” lanjut Gede Prama lagi. Memberi tidak

harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat berbentuk senyum,

pelukan, perhatian. Dan setiap manusia yang sudah rajin memberi, dia

akan memasuki wilayah beauty and happiness.

“Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada

yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi muka orang itu

keringnya minta ampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya,

apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi ke saya.

Saya bilang sleep well, eat well,” ungkap Gede Prama sambil tersenyum.

Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. Hanya

saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau kita

sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti dengan

kegiatan memberi.

Pintu ketiga adalah berawal dari semakin gelap hidup Anda,

semakin terang cahaya Anda di dalam.

Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya

gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika

ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan

cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam.

“Jika Anda punya suami yang keras dan marah-marah, jangan lupa

bersyukurlah. Karena suami yang keras dan marah-marah, membuat sinar

dari dalam diri Anda bercahaya. Anda punya istri cerewetnya minta

ampun. Bersyukurlah, karena orang cerewet adalah guru kehidupan

terbaik. Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang kesabaran.

Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun. Bersyukurlah, karena

Anda dapat belajar tentang kebijaksanaan,” ujar Gede Prama membesarkan hati.

Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan, menurut

Gede Prama, biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin

banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya

dari dalam. Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim sebagai

pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan.

“Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna.

Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat jadi tambah

cantik,” kata Gede Prama disambut tawa peserta. “Jadi semuanya ada

gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and happiness,” tegasnya.

Pintu keempat adalah surga bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah

rangkaian sikap.

“Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan

godaan, maka neraka tidak ketemu setelah mati. Neraka sudah ketemu

sekarang,” ujar Gede Prama.

Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda

benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala

sesuatunya, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be allright.

Setiap kali kita melalukan ritual peribadatan, tetapi setiap kali pula

kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan

terhadap kebenaran.

“Kalau Anda melalukan ritual peribadatan tapi masih takut, mending

jangan melalukan ritual peribadatan, karena toh Anda tidak yakin

terhadap kebenaran,” kata Gede Prama.

“Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang

kecil,” sambung Gede Prama.

Pintu kelima adalah kita tahu diri dan kita tahu kehidupan.

Manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah manusia

yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

“Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini

hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui

diri kita sendiri,” kata Gede Prama.

Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian

mengetahui kehidupan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: