4 shared

KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI

Posted on: September 23, 2009


KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI

Di sebuah universitas kelas malam,dimana mahasiswa/siswinya adalah pekerja semua.

Di saat menuju jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/siswinya :

“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.

DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan
tulis.
Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh siswi tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.

DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda
paling tidak penting!

Siswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Kemudian Siswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Siswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.
Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu
nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.

Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua mahasiswa/siswi tertuju memandang ke arah dosen, dalam pikiran mereka (para siswa/i) mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh siswi itu.

Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata, “Silahkan coret
satu lagi!”

Dengan pelahan-lahan siswi itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat
sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Hatinya menjadi bingung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu,terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.

Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya “Orang terkasihmu bukannya
Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah
anda yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa
anda berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk
dipisahkan?”

Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.
Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata “Sesuai waktu
yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak
jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, Yang
benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya”.

SEBENARNYA, KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI, JIKA DIKUPAS SESIUNG DEMI
SESIUNG, ADA KALANYA KITA DAPAT DIBUAT MENANGIS….”

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: