4 shared

PENDEKAR TUKANG SUNAT

Posted on: November 18, 2009


PENDEKAR TUKANG SUNAT


Sekali lagi cerita dari mulut kemulut, mudah-mudahan lolos sensor :

Di Indonesia tercinta ini banyak sekali aliran ilmu beladiri, baik yang impor seperti karete, eh, maksud saya karate, yudo, wushu, taekwondo, yuyitsu, dll-dll dan yang “asli” dalam negri. Saya bikin quote-unquote, karena sebagian dari produksi dalam negri ini sebenarnya juga impor dari Siawlimpay (shaolin), Butongpay dan pay-pay yang lain (selengkapnya baca buku Kho Ping Ho, dah).

Nah, untuk menjaga kelestarian ilmu beladiri dalam negri sambil membendung pengaruh dari luar, maka diadakanlah sarasehan para pendekar, sambil menunjukkan kelebihan ilmu masing-masing. Maksudnya untuk sambil memperkaya ilmu para pendekar itu.

Syahdan, tampillah tiga orang pendekar dari Makassar, Aceh dan Madura keatas panggung untuk saling tunjuk kebolehan. Disediakan beberapa ekor lalat untuk dijadikan sasaran senjata mereka.

Giliran pertama jatuh kependekar dari Makassar. Dicabutnya badik dan setelah pasang konsentrasi penuh ia beri isarat ke penjaga lalat untuk melepaskan lalatnya. Begitu lalat dilepas, disabetnya dengan senjatanya, dan.. sang lalat yang malang terbelah dua dan jatuh kebumi. Pendekar-pendekar lain yang menonton kelihayan ini serentak bersorak riuh memuji.

Giliran kedua majulah pendekar Aceh. Pembawaannya tenang menghanyutkan, tangannya tergantung lepas disamping badan, kakinya agak renggang membentuk kuda-kuda yang memungkinkannya bergerak cepat. Begitu lalat dilepas, berkelebatlah keluar dari sarangnya si bongkok dari Aceh, alias rencong, menuju koordinat sang lalat yang terbang lintang pukang. Penontonpun menahan napas, dan begitu gerakan sang pendekar Aceh berhenti, ternyata sang lalat sudah menempel, tertusuk diujung rencong. Riuh rendahlah sambutan para penonton yang menyaksikan kehebatan ini.

Giliran terakhir pendekar Madura. Dibukanya selubung senjatanya yang khas, clurit bulu ayam (dibuat dari baja asli, dinamakan bulu ayam karena bentuknya yang melengkung setengah penuh). Dimiringkannya badannya, sehingga juru pegang lalat ada disampingnya. Tangan kirinya lurus kesamping dengan telapak tangan menghadap keatas. Dia bilang, ini adalah jurus minta hujan dimusim kemarau. Tangan kanan yang memegang clurit tepat dihadapan selangkangannya, ujungnya siap meluncur kesamping, diarah lalat mau terbang.

Begitu lalat dilepas, sang pendekar menyabet kekanan, persis seperti polisi lalu lintas yang menyuruh mobil dari kiri supaya cepat jalannya, dikala lampu lalu lintas macet. Apa yang terjadi?

Lalat yang disabet ternyata terbang lebih cepat lagi, dan lari sampai nggak keliatan lagi titik hitamnya. Penontonpun bengong… Sunyi senyap, sampai sang pendekar dengan tenangnya berkata : “Bapak ibu sekalian, sengaja saya tidak membunuh lalat yang malang itu, kasihan dia masih lajang. Saya cuma sunat aja dia….”

Lho….

NB : Ati-ati yg belon pada sunat, jangan deket-2 pendekar Madura ini……….


***

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: