Posted by: wawanscl on: Desember 29, 2009
Sembilan Dinar Saja
Suatu malam seorang ulama Sufi bermimpi bahwa ia sedang menjual seekor kambing yang gemuk.
“Berapa harga kambing ini ?” tanya seorang calon pembeli.
“Dua belas dinar.” kata sang sufi.
“Tujuh dinar.”
“Tidak boleh.”
“Delapan dinar.”
“Tidak boleh.”
Ketika tawaran mencapai sembilan dinar, sang sufi terbangun dari tidurnya.
Ia membuka kelopak matanya dan mengusapnya. Tak seekor kambingpun ia lihat.
Juga tak ada calon pembeli.
Cepat-cepat ia memejamkan matanya lagi sambil berkata.
“Kalau begitu, baiklah, sembilan dinar boleh kamu ambil.”
***
Posted by: wawanscl on: Desember 29, 2009
I am Sorry…..
Untuk menunjukkan kekuatan dan kehebatan negara masing-masing, maka antara Orang Amerika, Inggris, dan Israel menguji kemampuan enggunakan panah. Dengan memanah buah apel yang ditaruh diatas kepala orang Arab.
Orang Amerika diberikan kesempatan pertama dan berhasil membelah buah apel menjadi dua, lalu berteriak: “I am RAMBOO!”
Selanjutnya, orang Inggrispun berhasil memanah buah apel hingga terbelah menjadi empat tanpa mengenai kepala Si Arab, dengan tak mau kalah iapun berteriak: “I am ROBINHOOD!”
Giliran terakhir, orang Yahudi dengan santai dilepas anak panahnya dan tepat mengenai “mata si Arab”, lalu dengan bersorak penuh kemenangan ia berteriak: “I am SORRY!”
(memang udah dari tadi dincernya mata si Arab itu!)
***
Posted by: wawanscl on: Desember 29, 2009
RONALD DIANTARA GAY
Seorang profesional muda sebut saja namanya Ronald, setelah setahun menabung, dia mengambil cuti dan berencana ikut salah satu paket tour. Dari iklan di koran, akhirnya dia menemukan paket tour yang sesuai dengan dana dan waktu yang tersedia, dari travel agent Singapore. Ternyata Ronald kurang teliti, paket yang dia ikuti ternyata paket untuk orang-orang gay alias homo.
Konon ceritanya, para gay atau homo kalau kentut tidak bunyi lagi, paling bunyinya “hhaahh” saja sebab anusnya sudah longgar.
Pada hari kedua di Paris, di dalam bis tour Ronald ingin buang angin alias kentut, dia coba tahan, lama-lama tidak tahan lagi, dia coba lepas pelan-pelan, apa mau dikata ternyata tetap berbunyi cukup keras “puuuuutttt”. Ronald jadi was-was takut kena maki.
Tetapi apa yang terjadi, peserta tour lain serempak menyeletuk seperti orang koor, “Mmhhhhhhh …… still virgin ……!”
***
Posted by: wawanscl on: Desember 29, 2009
GUYONAN IRIAN
[Maaf ... nama dan lokasi kejadian hanyalah rekaan belaka sehingga bila terdapat kesamaan itu berarti hanya kebetulan semata...]
MUNTAH
Hiduplah seorang kakek dan nenek di sebuah pulau kecil di pesisir pantai Irian. Keduanya kebetulan tidak dikaruniai keturunan sehingga segala keperluannya dikerjakan oleh mereka berdua tanpa syarat.
Suatu hari si kakek hendak mencoba perahu barunya …( … transportasi di pesisir pantai Irian rata-rata menggunakan perahu, baik dengan menggunakan dayung maupun motor tempel). Karena suasana laut saat itu kurang menguntungkan akibat gelombang yang agak besar, maka si kakek mengatakan sama si nenek agar nggak usah ikut aja, soalnya si kakek kuatir banget jangan-jangan si nenek mual alias mabuk laut sehingga perahu barunya ini akan dijadikan sasaran muntah si nenek. Namun si nenek bersikeras agar diizinkan ikut, maklumlah … pasangan sejati sich. Segala bujuk rayu sudah diupayakan oleh si kakek agar si nenek berdiam aja di rumah namun tak berhasil. Akhirnya dengan satu syarat, bahwa si nenek nggak boleh mabuk laut maka ikutlah si nenek bersama do’inya ini mengujicobakan perahu baru mereka di seputar pulau tersebut.
Saat itu kondisi laut sekitar pulau tersebut tidak mau diajak kompromi dengan program layak dayung yang dikomandoi oleh sang kakek ini. Akibatnya fatal, bahwa si nenek walaupun dari sononyo sudah imun dengan problematika kelautan (iklim, cuaca, gelombang, dll) ternyata saat itu daya tahan tubuhnya menurun drastis, sempoyongan di atas perahu, lemas tak berdaya dipermainkan gelombang, sehingga tanpa disangka-sangka muntahlah si nenek … namun muntahnya di dalam perahu barunya si kakek. So pasti … tanpa basa-basi, tanpa aba-aba meluncurlah umpatan, caci maki yang keluar dari mulut si kakek akibat perahu barunya dimuntahin sama si nenek. Saat si kakek “melagukan tembang-tembang minor” tersebut si nenek hanya diam dan hanya mendengarkan dengan pasrah “lagu” si kakek tersebut. Setelah si kakek puas “bernyanyi” maka tiba-tiba menyelalah si nenek, katanya : ” masa sich kamu bisa marahin saya seenak perutmu aja gara-gara saya hanya sekali muntah di perahumu, lupa ya …. kalau kamu setiap malam selalu muntah di perahuku … saya sekalipun nggak pernah marahin kamu”………:)
***
Posted by: wawanscl on: Desember 29, 2009
GUYONAN MADURA
Ada anekdot bahwa orang Madura banyak yang takut pada Tentara.
Suatu saat, di sebuah bis kota yang penumpangnya berjubel seseorang bertanya kepada salah satu penumpang yang badannya kekar dan berambut pendek :
“Maaf pak, apakah sampiyan Polisi ? ” (logat Madura)
“Bukan !”
“Apakah sampiyan Angkatan Darat ?”
“Bukan !”
“Angkatan Laut atau Angkatan Udara ya ??”
“Bukaaan…!”
“Kalau begitu jancuk sampiyan !”
“Lho kenapa ?”
“Ini sampiyan nginjak kaki saya “.
***